Wednesday, April 16, 2014

Mengalah Untuk Menang

Filosofi ini bukanlah hal yang baru, tapi seperti kata Om Arya Wiguna, Demi Tuhan!!!, susahnya minta ampun utk dilaksanakan. Masih sebatas teori, dongeng yang sedap didengar.
Menerapkannya saja sudah sulit tapi sekarang harus mengajarkan ke Adit hal yang sama.

Alkisah ada murid kelas 1 SD yang berhutang, sewaktu di tagih malah yang berhutang lebih ngotot.
Nominalnya kecil, tapi cukup bikin pelik. Haruskah di laporkan ke guru? Di khawatirkan bikin battle yang baru antar ortu, padahal nominalnya kecil.
Haruskah di masukkan ke kategori bullying ? Tapi setelah di selidik ..sewaktu minjam dan di tagih, semua fine2 aja tidak ada unsur kekerasan/pemaksaan, tapi tetep saja terasa menjengkelkan.

Ada banyak cerita yang bisa diwakilkan dari 2 lembar uang 2 ribuan ini.

Pembiaran prilaku berhutang, takutnya si anak jadi terbawa2 sampai dewasa, ah biarin aja bukan anak gw ini.
Pembiaran hutang yg tak tertagih, takutnya membuat Adit jadi lemah, tidak bisa menjaga milik pribadinya, tidak bisa membela diri, duh ruwet amat ya hidup ini.
Atau yang terakhir ya dibiarkan saja, ngapain repot utk perkara kecil, toh menghindari pertempuran bukan berarti lemah, apalagi kalau pertempuran sepele yang malah membangkitan pertempuran lebih besar.

Akhirnya sepakat, ah biarkan saja, dengan embel2 lain kali kalau ada yang mo minjam duit, di tolak saja. kalau orangnya ngotot ya lapor ke guru. Selesai, the end...iya, happy ending ? iya juga tapi masih ganjel.
Huu padahal cara mendidik yang terbaik adalah dari contoh, gimana mo mendidik kalau dlm hati masih ganjel. Jadi terpikir utk home schooling lagi, tapi gw ngak mau Adit terlalu terprotect dan lupa kalau dunia kejam, jadi tidak mandiri dsb dsb dsb

ternyata pikiran gw masih seruwet dulu , hmmm