Pagi2 saat terjebak kemacetan, iseng2 membuka jejaring sosial. Ada teman yang mengupdate statusnya dengan, "mau ketemu orang berpendidikan tapi bertingkah seperti orang yang tidak berpendidikan". Manggut2 sambil berpikir, apa sih sebenarnya standar untuk kategori tidak berpendidikan?
Seberapa tinggi pendidikan yang harus di tempuh untuk mendapat status berpendidikan atau makan bangku sekolah ?
Apakah kata2 "tidak berpendidikan" bisa di tujukan kepada orang yg berpendidikan lebih tinggi kepada orang yg pendidikannya lebih rendah? Patutkah orang berstatus S1 berkata tidak berpendidikan kepada yang hanya lulusan sekolah menengah, atau S2 kepada S1 ...dan begitu seterus nya ?
Jadi teringat sama teman yang sedang sibuk bercerita tentang pembantunya. Memang bla .. bla .. bla ..ngak berpendidikan sih. Iseng2 saya tanya ke teman saya, memang ART mu ini ngak sekolah ? Jawabannya ...ya hanya tamat SD, makanya tuh jadi bla bla bla ...
Duh ... kesian sekali, klu memang hanya tamatan SD sudah di label tidak berpendidikan, padahal tadinya saya pikir yang pernah sekolah entah apapun jenjang yang dia kecap, itu bisa kategori berpendidikan, salah ya saya? Apakah pendidikan hanya bisa diperoleh dengan sekolah dan dibuktikan dengan sertifikat ? Lah bagaimana dengan anakku yang notabene belum sekolah sama sekali ? Bagaimana dengan pendidikan di rumah ?
Padahal pendidikan di rumah itulah yang terpenting, membentuk karakter dan adat. Kecerdasan akal harus seimbang dengan kematangan mental. Itu yang mencegah orang2 menjadi kriminal, mencegah artis Korea yg bertalenta untuk bunuh diri (loh kok balik lagi ke Korea Wave kikikiki).
Banyak orang yg tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi bisa lebih bermartabat ketimbang orang yg perpendidikan formal. Seperti budaya Jawa (bukan berarti hanya Jawa doang loh ya, pastinya semua mengajarkan hal yang sama), yang menjunjung sopan santun dan menghormati orang yang lebih tua. Andai saja setiap orang seperti itu, akan lebih nyaman dunia untuk di tinggalin dimana semua orang saling mendahulukan kepentingan orang lain, saling hormat, respek dan penuh tenggang rasa. Itu semua di peroleh di pendidikan non formal loh. Alangkah mirisnya melihat mereka yang mengganggap diri tinggi dan mencibir kepada orang yang lebih rendah. Duh duh duh siapa kamu bisa menghakimi/menilai orang lebih rendah seperti itu? Apa kasta mu? Terlahir dengan gundukan emas kah ?
Kembali lagi ke status teman ku pagi ini, merasa jerih karena harus bertemu org yg cerdas secara akal tapi tidak di imbangin dengan kematangan mental, membuat orang menjadi malas, ilfil untuk berurusan dengan orang2 seperti itu. Setuju dengannya, lebih menyebalkan bertemu orang yg menggunakan akalnya untuk menjadi pain in the ass, saling menyingkirkan dan sikut. Memang lumrah, tapi menyebalkan kalau kita harus bertemu orang2 seperti itu setiap hari. Biarpun begitu, kita harus bisa menunjukkan kepada mereka, kalau kita berbeda, bukan orang yg menggunakan ke lebihan yg kita miliki utk saling menusuk, menyakiti. Kita lebih dari mereka.
Yuk semangat, biarpun bertemu org yangg menyebalkan, jangan menurunkan standar kita menjadi sama dengan mereka.