Wednesday, June 22, 2011

SAJAK KECIL TENTANG CINTA

mencintai angin harus menjadi siul
mencintai air harus menjadi ricik
mencintai gunung harus menjadi terjal
mencintai api harus menjadi jilat
mencintai cakrawala harus menebas jarak
mencintai mu harus menjelma aku


- Sapardi Djoko Damono -

Your Children (by Kahlil Gibran)


One of my fave poem, something nice to remind you that you are not the owner of your child and should be blessed since God trusted you to keep them.



Your children are not your children.
They are the sons and daughters of Life’s longing for itself.  
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.

You may give them your love but not your thoughts, 
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams. 
You may strive to be like them,
but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.

You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.

Tuesday, June 21, 2011

gue banget. lagu lawas yg masih tetep gw suka... krn gw banget :D


Published with Blogger-droid v1.7.0

UnEducated People

Pagi2 saat terjebak kemacetan, iseng2 membuka jejaring sosial. Ada teman yang mengupdate statusnya dengan, "mau ketemu orang berpendidikan tapi bertingkah seperti orang yang tidak berpendidikan". Manggut2 sambil berpikir, apa sih sebenarnya standar untuk kategori tidak berpendidikan?
Seberapa tinggi pendidikan yang harus di tempuh untuk mendapat status berpendidikan atau makan bangku sekolah ?

Apakah kata2 "tidak berpendidikan" bisa di tujukan kepada orang yg berpendidikan lebih tinggi kepada orang yg pendidikannya lebih rendah? Patutkah orang berstatus S1 berkata tidak berpendidikan kepada yang hanya lulusan sekolah menengah, atau S2 kepada S1 ...dan begitu seterus nya ?

Jadi teringat sama teman yang sedang sibuk bercerita tentang pembantunya. Memang bla .. bla .. bla ..ngak berpendidikan sih. Iseng2 saya tanya ke teman saya, memang ART mu ini ngak sekolah ? Jawabannya ...ya hanya tamat SD, makanya tuh jadi bla bla bla  ...
Duh ... kesian sekali, klu memang hanya tamatan SD sudah di label tidak berpendidikan, padahal tadinya saya pikir yang pernah sekolah entah apapun jenjang yang dia kecap, itu bisa kategori berpendidikan, salah ya saya? Apakah pendidikan hanya bisa diperoleh dengan sekolah dan dibuktikan dengan sertifikat ? Lah bagaimana dengan anakku yang notabene belum sekolah sama sekali ? Bagaimana dengan pendidikan di rumah ?
Padahal pendidikan di rumah itulah yang terpenting, membentuk karakter dan adat. Kecerdasan akal harus seimbang dengan kematangan mental. Itu yang mencegah orang2 menjadi kriminal, mencegah artis Korea yg bertalenta untuk bunuh diri (loh kok balik lagi ke Korea Wave kikikiki).

Banyak orang yg tidak mengenyam pendidikan tinggi tapi bisa lebih bermartabat ketimbang orang yg perpendidikan formal. Seperti budaya Jawa (bukan berarti hanya Jawa doang loh ya, pastinya semua mengajarkan hal yang sama), yang menjunjung sopan santun dan menghormati orang yang lebih tua. Andai saja setiap orang seperti itu, akan lebih nyaman dunia untuk di tinggalin dimana semua orang saling mendahulukan kepentingan orang lain, saling hormat, respek dan penuh tenggang rasa. Itu semua di peroleh di pendidikan non formal loh. Alangkah mirisnya melihat mereka yang mengganggap diri tinggi dan mencibir kepada orang yang lebih rendah. Duh duh duh siapa kamu bisa menghakimi/menilai orang lebih rendah seperti itu? Apa kasta mu? Terlahir dengan gundukan emas kah ?

Kembali lagi ke status teman ku pagi ini, merasa jerih karena harus bertemu org yg cerdas secara akal tapi tidak di imbangin dengan kematangan mental, membuat orang menjadi malas, ilfil untuk berurusan dengan orang2 seperti itu. Setuju dengannya, lebih menyebalkan bertemu orang yg menggunakan akalnya untuk menjadi pain in the ass, saling menyingkirkan dan sikut. Memang lumrah, tapi menyebalkan kalau kita harus bertemu orang2 seperti itu setiap hari. Biarpun begitu, kita harus bisa menunjukkan kepada mereka, kalau kita berbeda, bukan orang yg menggunakan ke lebihan yg kita miliki utk saling menusuk, menyakiti. Kita lebih dari mereka.

Yuk semangat, biarpun bertemu org yangg menyebalkan, jangan menurunkan standar kita menjadi sama dengan mereka.