Tuesday, July 26, 2011

Serangan Bieber

Sebagai pencinta Queen sejati, mendengarkan Bieber adalah sesuatu yang ENGGAK BANGET. Eits untuk The Biebers jangan marah dulu yaa ..coba cek aja di link youtube the legend singers/group baik Queen, Rollingstone, Helloween sampai ke era terbaru seperti Alicia Key, Mariah Carey. Banyak yang mengunduh lagu2 mereka dan mengelu2kan musisi tersebut tapi memandang sebelah mata utk Bieber. So bukan gw saja loh yang berpendapat seperti ini.
Bukan karena kebeliaan Justin, ok lah dia punya suara yang enak di dengar, sayangnya Pop bukan gw banget. So no offense yaa.

Karena gw bukan pencinta Bieber, gw ngak terkena euforia saat penyanyi tsb dateng, sempat bingung juga sewaktu ada teman yg sedang kebingungan mencari tiket buat anaknya. Reaksi awal gw, " Huh? Sopo sih Bieber?" Normaaal, itu reaksi normal :D Apalagi gw emang blom pernah mendengar lagu2nya berhubung di rumah channel TV sudah di setting ke Disney Junior dan KBS TV dan entah kenapa setiap gw ubah ke MTV yang ada justru Mr Taxi nya SNSD .. yihaaaaa

Sepertinya gw ketulah nih, setelah gw comment di link nya Queen yg meminta untuk menukar Freddie (oh yeah baby pls come back) dengan Bieber, bertepatan dengan Adit minta main mandi bola and guess what, biasa di tempat permainan itu di mainkan lagu anak2 lah ini tumben selama hampir 2 jam lebih justru mp3 Bieber yang berulang2 di mainkan. OH NO ....
Untuk pertama kalinya gw mendenger Baby ... awalnya sempet merinding, hiyyy lagu apaan nih tapi gw menguatkan hati, it's ok lagu ini akan selesai, oh not again, again, again ???? 1 - 2 jam, done.
Slesai beneran nih ? Ternyata tidak, masih lanjut !

Serangan ini berlanjut setelah Adit sekolah. Rupanya Rabu lalu saat acara dongeng dan juga Jum'at saat senam bersama, mereka menari di iringin lagu Bieber. Dan sekarang ... Adit ikut2an menyanyikan lagu ini NONSTOP di rumah. Setiap dia bermain biasanya dia bersenandung lagu2 Thomas, OSO, Little Einstein, tapi kali ini, nonstop dia bersenandung lagu Baby.

So here we go again, latah ikutan bersenandung baby baby baby ohhh ....

Tuesday, July 19, 2011

Akibat (berhenti) Minum Kopi

Sebenarnya cairan hitam kental beraroma wangi ini adalah musuh bebuyutan. Jangankan secangkir bahkan seteguk saja, perut langsung berontak, mules melilit. Perang antara ma'ag dan kenikmatan seduhan kopi ini terus berlangsung dan herannya tidak ada istilah kapok, biarpun tahu akibat minum kopi = maag kumat, tetap saja minum lagi dan lagi dan lagi. Ada mantra tersembunyi di balik aromanya seperti rayuan duyung kepada perompak untuk datang menghampiri dan begitulah yang terjadi pada gue. Biarpun tahu penderitaan seperti apa yang dialami, tapi begitu menghirup aromanya ... seperti terhipnotis untuk langsung mereguk cairan itu dan siap pada konsekuensinya. Kasus klasik pencandu kopi dan penderita maag.

Tapi akhirnya ketemu kata kapok juga. Setelah beberapa hari yang lalu terbangun krn sakit perut yg melilit yg tumben2 dlm sejarah saya menangis karena kesakitan, terpaksa menyerah. No coffee !  Selama 3 hari penuh benar2 berhenti total kopi, sebagai gantinya teh hijau  yang di yakini baik untuk kesehatan. Bagus kan, mengganti racun dengan kebaikan?

Dampaknya langsung terasa. Setiap jam 7.30 malam, mata berat seperti di gelayuti seribu gajah (lebay ah). Kebiasaan kalong pun di tinggalkan. Cepat tidur, bangun pagi. Kebetulan bersamaan dengan si kecil harus sekolah pagi. Suatu perubahan yang baik dong, biarpun ada kebiasaan yang harus di tinggalkan. Salah satunya kebiasaan "ngalong" untuk bermain games komputer, sampe mengintip status org di facebook atau membaca kicauan di Twitter.

Tapi setelah si kecil mulai protes krn berkurangnya waktu bermain bersama,  setelah asisten juga kebingungan utk belanja krn menu utk besok hari blom sempat di atur akhirnya kembali lagi ke kopi :)
Bahkan menulis blog ini pun di temani secangkir kopi panas yang wangi ....nikmaaatttt

Friday, July 8, 2011

Suatu Siang Di Sudirman


Dear diary, I have confession to make … uhuk2 (menangis tersedu2)

Siang ini setelah menyantap KFC hasil hasutan seorang teman yg sangat amat berniat membatalkan program diet ku, terpikir utk gosok gigi menyegarkan nafas dan seperti biasa toilet perempuan lagi ramai. Nyebelin banget, terisi para cewe2 ngak jelas yang cuma sibuk menyimbak rambut, menata baju.
Yang seharusnya sih, ngak perlu nyempit2in toilet n yg bikin gw susah utk gosok gigi

Lalu, di mulailah percakapan singkat, intinya …lu minggir donk gw susah mo gosok gigi

Gw   : Mbak geser dikit dunk , mo gosok gigi susah
Mbak2 : Diem ngak ada reaksi
Gw sambil pasang muka super jutek  : Mbak, geseran donk
Sambil mikir, duh nih cw reseh amat sih, mending klu lagi make up-an lah ini Cuma diem bengong ngak jelas gitu

Eh si mbak2 itu pun menjawab dng suara memelas : Iya mbak, tapi kaki saya jangan di injek donk

Gw asli kaget, dzzzzinggg, gw langsung noleh ke bawah, en yup sodara2 kaki gw dng nikmatnya nangkring di atas sandal dia

Oh oh oh jadi ente ngak bisa geseran krn gw injek ya ? sorry sorry ya jekkkkk… duhh mokal banget gw

Gw sih tetep cuek pasang muka jutek n gosok gigi, dlm hati sih …duhhh

Beneran siang  kelabu di Sudirman 

Wednesday, July 6, 2011

Cara Sehat Memilih Calon Suami

Tak gampang memilih jodoh yang pas. Banyak hal yang harus ditimbang-timbang.

Perkawinan adalah peristiwa sakral. Karenanya, banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk menikah. Sukses perkawinan juga dianggap ikut menentukan mutu sumber daya manusia bangsa.

Tak heran, pemerintah Singapura sampai harus menyusun panduan memilih teman hidup agar generasi mudanya tak salah langkah. Salah satu butir panduan, misalnya, jangan lekas-lekas pergi nonton bioskop berdua. Maksudnya, agar seks selama berkencan tidak berjalan mendahului cinta.

Persoalannya, struktur demografi dunia sekarang ini menunjukkan angka, tersedia lebih sedikit pria dewasa untuk menjadi pasangan hidup wanita (low sex ratio). Fakta itu membuat banyak kaum Hawa di dunia merasa gelisah kalau-kalau tidak mendapat jodoh. Terlebih bagi wanita berkultur Timur yang menabukan wanita lebih aktif dalam bergaul dan mencari calon teman hidup.

KENAPA SALAH PILIH?
Salah memilih teman hidup sering berawal dari kelewat cepat memutuskan bahwa dialah si "Mr. Right".

Kurang matangnya menentukan pilihan teman hidup sebagian besar karena umur saat mulai berkencan kelewat muda, janji sehidup semati diputuskan ketika usia belum cukup dewasa, dan model pacaran yang dipilih jenis permisif dan kelewat ngebut.

Kalau begitu, kapan sesungguhnya seseorang sudah pantas pacaran?

Secara biologis dan jiwa, seorang wanita baru matang setelah berumur 24 tahun. Jika diasumsikan pada umur 24 tahun sudah boleh menikah, pacaran mestinya sudah boleh berlangsung sebelum uisa itu. Tapi kapan?

Statistik psikologi menyebutkan, pacaran tak boleh terlalu lama. Idealnya sekitar dua tahun. Lebih lama dari itu berisiko putus, sedangkan bila lebih pendek, kemungkinan belum cukup masak. Bagi kebanyakan remaja, keputusan ini dianggap kolot. Mayoritas remaja sudah ingin pacaran lebih dini lagi.

Pola gaul remaja putri sekarang, lelaki yang baru beberapa kali bertemu dan jalan bareng sudah diputuskan sebagai pacar. Itu berarti tidak ada lagi peluang buat teman lelaki lain untuk masuk dalam lingkaran pergaulan kita. Ibaratnya, mereka seperti katak di dalam tempurung. Seolah tidak ada lelaki lain yang lebih ideal dari si dia.

Akibatnya, banyak perkawinan yang berakhir dengan penyesalan, kenapa dulu memilih dia, kalau tahu sekarang ternyata menemukan calon yang lebih ideal. Ini menjadi masalah karena pilihan itu belum tentu benar selektif. Gaya dan pola gaul remaja sekarang yang lebih permisif dibanding kultur bangsanya, tentu berdampak pula terhadap model pacaran yang ditempuh. Akibatnya, seks berjalan mendahului cinta. Oleh karena menjadi serba permisif dalam menempuh proses berpacaran, akibatnya yang tumbuh lebih dulu adalah tunas seks ketimbang cinta.

LUASKAN PERGAULAN
Sering keputusan pilihan teman hidup tanpa sadar terdesak oleh pertimbangan seks, bukan cinta. Padahal, cinta itu bukan emosi dan sensasi belaka.

Cinta sekarang sudah dipandang dan harus diperlakukan sebagai sesuatu yang matematis, sesuatu yang bisa dinalar.

Harold Bessel, PhD, psikolog yang banyak mendalami soal cinta menemukan, dalam cinta terkandung tiga unsur utama, yakni romantic attractrion, intimacy, dan commitment. Dalam sosok cinta, kedudukan seks hanya merupakan bagian dari romantic attraction, komponen kecil saja dalam cinta. Namun, model pacaran remaja modern menjadikan unsur seks menjadi segala-galanya, akibat serba permisifnya dalam bergaul. Dianggap kuno kalau pacaran cuma pegang-pegangan tangan belaka.

Kencan yang sehat tidak boleh salah menentukan pilihan siapa yang laik (ideal) menjadi pacar. Kita tahu dalam otak kita tersimpan apa yang disebut sebagai “peta cinta.” Bahwa setiap orang merekam dalam benaknya, sosok-sosok lawan jenis seperti yang bagaimana yang menjadi tokoh idealnya. Dan itu menjadi alat penyaring dalam menentukan pilihan siapa yang akan menjadi teman spesial dalam bergaul.

Namun, karena sosok ideal saja belum jaminan pasti cocoknya sebagai pacar, tak perlu segera memutuskan untuk langsung menjadi pacar. Perlu bergaul dulu lebih luas, lebih banyak, lebih terbuka terhadap semua lawan jenis tanpa ada yang perlu dijadikan teman spesial.

Dengan demikian akan tetap membuka peluang mendapatkan sample calon pacar yang lebih cocok, ketimbang baru ketemu sekali dan merasa itu tipe ideal, lalu langsung menubruk bahwa dialah calon pacar yang tepat. Perlu diingat, pacar tidak harus abadi, dan setiap saat boleh dan sah saja untuk putus, daripada menyesal terpaksa menikah dengan orang yang salah (‘Mr. Wrong’).

Namun, model pacaran kebanyakan remaja modern sering terpupuk unsur seks. Baru ketemu seminggu sudah kissing, sebulan petting, lebih dari itu lama-lama sudah sampai ke organ kemaluan. Pacaran model remaja modern sering menjadi khusuk hanya pada urusan seks dan melupakan yang lainnya. Dan inilah awal salah pilih teman hidup itu.

BANGUN KEINTIMAN
Hal lain yang menambah besar risiko salah pilih teman hidup, apabila proses pacaran yang mestinya lebih banyak bicara dan sedikit bekerja, ditempuh dengan cara sebaliknya: sedikit bicara dan banyak bekerja.

Kita perlu terus mengingat konsep cinta Harold bahwa dalam cinta sejati dibutuhkan 3 unsur, dan salah satunya intimacy.

Maksudnya perlu dibangun keintiman selama menempuh proses pacaran. Artinya perlu saling mengenal, menyesuaikan diri, mencocokkan diri antara dua pribadi dari dua latar belakang yang tidak sama. Dari dua perbedaan, adakah terbangun toleransi, dan bukan menuntut perubahan bahwa kamu harus menjadi aku, dan aku menjadi kamu, melainkan untuk sehatnya, engkau dan aku menjadi senyawa bernama “kita”.

Agar proses menempuh keintiman berjalan mulus dan mencapai hasil ideal, kencan tidak boleh direcoki oleh unsur seks. Seks bisa memberi hasil yang bias, yang mengecoh seolah-olah cocok. Padahal, sebetulnya mungkin hanya dicocok-cocokkan.

Apabila dari proses intimacy ternyata tidak pas, tidak klop, banyak ketidaksesuaian, dan toleransi tidak kunjung terbangun, jangan ragu untuk tidak dilanjutkan. Maka itu, supaya tidak berat menyetop pacaran, bangunlah model pacaran yang lebih berwibawa, yang tidak terlalu ngebut, yang wajar-wajar saja. Peran untuk membangun pacaran yang lebih anggun sebetulnya banyak ditentukan oleh pihak wanita. Mengapa?

Tidak mudah bagi pihak lelaki untuk sembarang menjadi berani, termasuk dalam sikap seksualitasnya terhadap wanita, apabila pihak wanita sendiri lebih berwibawa tidak gampangan dan murahan. Kepandaian wanita membatasi diri, dan berani untuk mengatakan tidak, untuk menolak, untuk menjaga diri tidak sembarang diapa-apakan seks oleh teman kencan, menentukan kualitas proses intimacy, atau tujuan kencan yang sehat.

Semakin ketat menjaga tidak sembarang dicium, sembarang dipeluk, sembarang dipegang-pegang, akan lebih memberi kesempatan kepada tunas cinta untuk mekar secara jujur, bukan gombal, atau cinta yang pura-pura belaka. Bahwa seks itu sesungguhnya harus didudukkan sebagai bunga dari cinta, dan bukan yang mengawali cinta. Ancaman yang datang dari pihak lelaki dalam berkencan, sering berbunyi, "Kalau betul cinta, buktikan dengan menyerahkan segalanya buat aku.” Semakin teguh menjaga kegadisan, semakin berwibawa seorang wanita sebagai gadis berpribadi luhur.

Bahwa pacar yang lari, yang menyatakan putus, setelah tidak diberi apa yang diminta, sebetulnya bisa dijadikan test case, bentuk uji coba, apakah dia pria yang setia pada cinta atau pemburu seks belaka. Pria yang menyimpan cinta sejati tidak akan mundur sekalipun tidak diberi seks. Pria yang menyatakan putus cinta jika tidak diberi seks, berarti bukan pria dengan cinta sejati.

Agar seks tidak berjalan mendahului cinta, hindarkan memasuki peluang-peluang berbahaya yang memberi kemungkinan terjadinya peristiwa seks dadakan, seperti duduk di mobil berdua malam hari, berada di tempat sunyi berdua, nonton bioskop berdua (sebagaimana menjadi butir-butir panduan pemerintah Singapura bagi para lajangnya). Jika wanita mudah terjebak dalam pikatan seks, akan lebih sukar mengelak untuk mengatakan tidak.

TAK BOLEH LEWAT BATAS
Hukum seks bagi wanita “the point of no return”. Apakah itu?

Dalam gelora seksualitas, faal seksualitas wanita memiliki tabiat, akan tibanya pada suatu titik pasrah sempurna di saat detik-detik libido sudah di puncak. Sekali titik libido memuncak itu terlewati, yang tidak boleh terjadi akan terjadi juga. Agar titik di mana wanita akan terlambat dan tak mampu undur lagi, maka pacaran tidak boleh kelewat batas.

Jauh sebelum terjatuh, pihak wanita masih punya rem yang lebih pakem dibanding faal seksualitas pasangannya. Pihak wanita yang sesungguhnya lebih bisa mengontrol jika pacaran mulai melaju lebih kencang. Dan pihak wanita juga yang tahu persis kapan rem seks itu harus betul-betul diinjak tandas, sebelum ‘kecelakaan’ seks terjadi.

Masalah timbul jika perkawinan dibangun di atas kecelakaan seks. Statistik menunjukkan bahwa perkawinan ‘kecelakaan seks’ umumnya tidaklah selanggeng perkawinan yang diputuskan secara matang. Kawin ‘kecelakaan seks’ umumnya buah dari keputusan yang masih mentah, dalam usia maupun kematangan proses kencannya. Itu berarti risiko untuk bercerai, jauh lebih besar dibanding perkawinan normal.

Harold menciptakan kuesioner untuk menilai apakah suatu perkawinan bahagia. Ternyata skor Romantic Atrraction (RAQ) pasangan yang perkawinannya berbahagia lebih tinggi dibanding yang perkawinannya gagal. Ini bukti bahwa proses kecocokan dalam perkawinan, yang ditentukan oleh kualitas proses intimacy, menentukan kebahagiaan perkawinan.

Bukankah kita sering mendengar perkawinan selebriti banyak yang putus di tengah jalan, dengan alasan sudah tidak ada kecocokan lagi? Satu bukti bahwa cinta saja (kalau benar ada), ternyata tidak cukup.  (Tabloid Nova)